Archive for 2012
BAB I
PENDAHULUAN
Pada
bagian pendahuluan ini akan disampaikan hal-hal berikut: (1) latar belakang
penelitian, (2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) ruang lingkup
penelitian, (5) manfaat penelitian, dan (6) asumsi penelitian. Untuk memperoleh
kejelasan, masing-masing hal tersebut diatas akan diuraikan berikut ini.
1.1 Latar Belakang
Seni-seni dan karya-karya sastra lainnya di
Indonesia seperti yang kita ketahui bersama, sangat banyak yang hampir musnah
serta tidak diingat lagi oleh penduduk aslinya. Hal ini menyebabkan kerapuhan
suatu seni atau karya sastra itu sendiri. Sebagai warga Negara Indonesia sudah
seharusnya berupaya melestarikan seni dan karya sastra seperti contoh tarian
daerah, seni rupa, seni suara, dan seni teater.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Pemerintahan Daerah
menegaskan adanya kewenangan Provinsi, Kabupaten dan Kota untuk pembinaan
bahasa dan sastra Bali. Pemerintah Bali telah menerbitkan peraturan nomor 3
tahun 1992 tentang bahasa, aksara dan sastra Bali. Pengembangan pengajaran
bahasa Bali perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan hakikat
pembelajaran bahasa yaitu belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi dan
belajar sastra adalah belajar menghargai manusia dan nilai-nilai
kemanusiaannya.
Kurikulum yang digunakan saat ini dalam mata pelajaran
bahasa Bali adalah kurikulum muatan lokal atau disingkat munlok. Latar belakang
kurikulum munlok adalah dalam suatu pendidikan di sekolah perlu memberikan
wawasan yang luas kepada peserta didik tentang kekhususan yang ada
dilingkungannya serta karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan
menunjang pelestariannya. Kurikulum muatan lokal bertujuan untuk mengembangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas potensi daerah termasuk keunggulan
daerah yang materinya tidak menjadi bagian dari mata pelajaran yang ada.
Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan tidak terbatas pada
keterampilan, siswa dituntut lebih aktif dalm pengembangan dan pelestarian
potensi daerah. Kurikulum muatan lokal disusun berdasarkan ; (1) potensi dan
kebutuhan lingkungan masing-masing, (2) kebutuhan minat dan bakat peserta didik
dan (3) ketersediaan daya dukung. Kurikulum bahasa Bali yang digunakan di
sekolah mencantumkan empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak,
berbicara, membaca dan menulis Bali. Keempat keterampilan itu semestinya
dikuasai siswa sebagai bekal ketika mereka terjun ke masyarakat.
Oleh karena itu pembelajaran bahasa Bali diarahkan untuk
kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Bali, sesuai dengan tata krama masyarakat
dan pengajaran sastra Bali diarahkan untuk menimbulkan penghargaan terhadap karya
sastra bali baik sastra Bali purwa maupun sastra bali anyar.
Kesusastraan Bali secara umum dibagi menjadi dua bagian
yaitu : (1) Kesusastraan Bali Purwa dan (2) Kesusastraan Bali anyar.
Kasusastraan Bali purwa atau kesusastraan Bali
tradisional dapat dibagi menjadi dua yaitu: (1) Kesusastraan gantian,
kesusastraan yang berupa tuturan atau cerita yang belum diketahui siapa
penciptanya dan diceritakan secara turun-menurun berupa saa, mantra dan
satua-satua, dan (2) kesusastraan sesuratan berupa gegendingan, geguritan dan
peparikan.
Kesusastraan Bali Anyar (modern) sering disimpulkan
sebagai suatu karya sastra yang menggunakan bahasa Bali tetapi penulisannya
sudah menggunakan haruf latin. Dikatakan modern karena mendapatkan pengaruh
dari barat. Kesusastraan Bali Modern dimulai tahun 1931, yang dibuktikan dengan
terciptanya novel ”Nemoe Karma” karya
I Wayan Gobyah yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Selain itu karya sastra
modern yang lain yaitu : novel, puisi, dan drama. Menurut bentuknya
kesusastraan bali anyar/modern terdiri dari : Puisi bali Modern, Prosa Bali Modern
dan Drama Bali Modern.
Puisi bali anyar pertama kali muncul yaitu puisi yang
berjudul ”Basa Bali” karya Suntari
Pr, yang diterbitkan di Yogjakarta pada tahun 1959. puisi ini digunakan sebagai
tonggak munculnya Puisi Bali Modern. Beberapa Puisi Bali Modern yang diciptakan
oleh pengarang Bali antara lain: ” Puyung
” (Saba Sastra Bali), ”Galang Kangin”
(saba sastra bali), ”Maboros” (Putu
Gede Suata,1990), ”Togog Yeh” (I Made
Molog,2002).
Prosa Bali Anyar berupa cerpen dan novel. Cerpen
merupakan tonggak kesusastraan Bali modern yaitu pada tahun 1910-an yang
dibuktikan dengan adanya satua-satua yang digunakan sebagai sarana pengajaran
bagi anak-anak, sedangkan novel yang pertama kali diciptakan adalah novel ”Nemoe Karma” karya I Wayan Gobiah yang
diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1931.
Drama Bali Modern adalah karya sastra yang bertujuan
memaparkan kehidupan sehari-hari , terhadap konflik-konflik serta percakapan
antar pelaku. Dalam kesusastraan bali anyar (Modern) terdapat dua jenis drama,
yaitu: Drama Gong dan drama Bali Modern. Ada beberapa hasil karya drama ” Kobaran Apine” karya I Gede Dharna, ”Ajeg Bali” Karya I Gede Dharna, ”Masan Cengkeh Nedeng Mabunga” karya I
Nyoman Manda.
Pada masa sekarang karya sastra bali kurang diminati,
seperti halnya drama sebagai bagian dari kesusastraan bali modern kurang
mendapat perhatian atau lebih tepatnya kurang diminati dibandingkan novel dan
cerpen. Hal ini dapat di lihat dari sedikitnya karya sastra Bali yang ditulis,
tidak seperti pada zaman kerajaan. Hal itu disebabkan karena semakin
berkurangnya penggunan Basa Bali di Bali. Orang Bali lebih cenderung
menggunakan bahasa Indonesia karena dengan menggunakan bahasa Indonesia
komunikasi menjadi lebih mudah. Hal ini menyebabkan posisi basa Bali yang
dulunya sebagai bahasa ibu menjadi seperti bahasa asing dalam masyarakat Bali.
Buktinya, dapat dilihat masih kurangnya kemampuan siswa dalam menyimak,
menulis, berbicara, dan membaca dalam bahasa. Dijumpai kesalahan sangat
sering terjadi dalam penulisan huruf /a/
pada akhir kata dibaca /ẻ/ sering ditulis dengan huruf /ẽ/ yang bunyinya / ẽ /
sehingga terjadi kesalahan kata, seperti contoh dalam penulisan kata ” apa maaba ?” yang berarti ”apa di bawa”
sering ditulis dengan kata ”ape meabe?” (kata salah). Kesalahan ini hampir
terjadi pada setiap siswa.
Materi bahasa Bali menjadi materi yang sulit dipelajari
dan menyebabkan para siswa enggan mempelajari bahasa Bali. Hal tersebut
berdampak pada apresiasi siswa terhadap karya sastra Bali. Para siswa enggan
membaca naskah atau karya sastra yang berbahasa Bali apalagi menulis karya
sastra bali, hal ini menyebabkan Drama berbahasa Bali yang merupakan salah satu
jenis karya sastra Bali modern enggan dipelajari.
Menulis
adalah kegiatan penyampaian pesan (gagasan, perasaan, atau informasi) secara
tertulis kepada pihak lain. Dalam kegiatan berbahasa menulis melibatkan empat
unsur, yaitu penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan, medium
tulisan, serta pembaca sebagai penerima pesan. Kegiatan menulis sebagai sebuah
perilaku berbahasa memiliki fungsi dan tujuan: personal, interaksional,
informatif, instrumental, heuristik, dan estetis.
Sebagai
salah satu aspek dari keterampilan berbahasa, menulis atau mengarang merupakan
kegiatan yang kompleks. Kompleksitas menulis terletak pada tuntutan kemampuan
untuk menata dan mengorganisasikan ide secara runtut dan logis, serta
menyajikannya dalam ragam bahasa tulis dan kaidah penulisan lainnya. Akan
tetapi, di balik kerumitannya, menulis menjanjikan manfaat yang begitu besar
dalam membantu pengembangan daya inisiatif dan kreativitas, kepercayaan diri
dan keberanian, serta kebiasaan dan kemampuan dalam menemukan, mengumpulkan,
mengolah,dan menata informasi. Sayangnya, tidak banyak orang yang suka menulis.
Di antara penyebabnya ialah karena orang merasa tidak berbakat serta tidak tahu
bagaimana dan untuk apa menulis. Alasan itu sebenarnya tak terlepas dari
pengalaman belajar yang dialaminya di sekolah. Lemahnya guru, kurangnya model,
dan kekeliruan dalam belajar menulis yang melahirkan mitos-mitos tentang
menulis, memperparah keengganan orang untuk menulis.
Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa tak dapat dilepaskan dari aspek-aspek keterampilan berbahasa lainnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi. Pengalaman dan masukan yang diperoleh dari menyimak, berbicara, dan membaca, akan memberikan kontribusi berharga dalam menulis. Begitu pula sebaliknya, apa yang diperoleh dari menulis akan berpengaruh pula terhadap ketiga corak kemampuan berbahasa lainnya. Namun demikian, menulis memiliki karakter khas yang membedakannya dari yang lainnya. Sifat aktif, produktif, dan tulis dalam menulis, memberikannya ciri khusus dalam hal kecaraan, medium, dan ragam bahasa yang digunakannya.
Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa tak dapat dilepaskan dari aspek-aspek keterampilan berbahasa lainnya. Ia mempengaruhi dan dipengaruhi. Pengalaman dan masukan yang diperoleh dari menyimak, berbicara, dan membaca, akan memberikan kontribusi berharga dalam menulis. Begitu pula sebaliknya, apa yang diperoleh dari menulis akan berpengaruh pula terhadap ketiga corak kemampuan berbahasa lainnya. Namun demikian, menulis memiliki karakter khas yang membedakannya dari yang lainnya. Sifat aktif, produktif, dan tulis dalam menulis, memberikannya ciri khusus dalam hal kecaraan, medium, dan ragam bahasa yang digunakannya.
Berkaitan dengan sinopsis para siswa dituntut dapat
mengungkapkan isi cerita dengan bahasa yang lugas sehingga isi dari cerita
tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca. Dalam pembuatan sinopsis,
tema, tokoh-tokoh, alur, dan bahasa harus sangat diperhatikan. Para siswa
sering mengabaikan hal tersebut sehingga dalam penyajian sinopsis sering
terjadi kekurangan dan kesalahan. Kesalahan itu seperti ketidaksesuaian tema,
gagasan pokok yang masih belum mengarah ke inti cerita, pengungkapan tokoh dan
karakternya yang masih belum sesuai dengan ceritanya. Ketidakselarasan alur
dengan cerita dan bahasa yang masih belum lugas sehingga pembaca sering kebingungan
dalam menilai dan menyimpulkan maksud dari cerita. Hal ini menarik perhatian
peneliti untuk mengungkapkan tingkat kemampuan siswa dalam menulis sinopsis,
mengungkap kesalahan-kesalahan yang terjadi, mencari faktor penyebab dari
terjadinya kesalahan- kesalahan, sehingga solusi dari permasalahan yang sering
terjadi dapat ditemukan sehingga kedepan diharapkan kesalahan itu tidak
terulang.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka peneliti tertarik
mengangkat drama sebagai bahan penelitian. Kemampuan siswa dalam memahami karya
sastra tentu berbeda satu sama lain. Di satu pihak guru harus berusaha
meningkatkan kemampuan menulis para siswanya yang masih belum bisa dikatakan
baik. Di pihak lain para guru tidak ingin kemampuan para siswa yang telah maju
terhalang oleh para siswa yang masih kurang. Oleh karena itu, untuk penyajian
drama guru di tuntut luwes dalam pengajaran sastra agar materi dapat di serap
dengan baik. Tujuan pokok yang ingin dicapai dalam pengajaran sastra adalah
siswa mampu mengapresiasi sastra karya sastra tersebut agar nilai yang
terkandung didalamnya dapat di ungkap dan diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari, sudah pasti kegiatan ini perlu adanya karya sastra, khususnya
berupa drama berbahasa Bali. Berdasarkan hal tersebut, penulis mengadakan
sebuah penelitian tentang Kemampuan Menulis Sinopsis Drama Bali Modern Berjudul
”Aib” karya Ni Ketut Ayu Puspita Dewi
oleh Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Bebandem, Kabupaten Karangasem, Tahun Pelajaran
2011/2012. Sebuah naskah drama Bali modern berjudul ’Aib’ ini di pilih karena drama ini memiliki bahasa yang lugas, isi
cerita sudah tentu dapat menarik perhatian siswa, serta mengandung nilai-nilai
pendidikan, nilai moral, dan norma-norma kesusilaan. Disamping itu dipilihnya
naskah drama yang berjudul ’aib’ sebagai
bahan penelitian karena naskah drama Bali modern ini ditulis oleh seorang
mahasiwi jurusan bahasa inggris di IKIP Singaraja pada waktu itu dan sekarang dikenal
dengan universitas Ghanesa. Naskah drama ini merupakan salah satu kumpulan
naskah drama terbaik Temu Pekerja Teater Perempuan se-Bali pada tahun 2005.
1.1 Rumusan masalah
Bertitik
tolak dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka yang menjadi masalah
dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1)
Bagaimanakah kemampuan menulis
sinopsis Drama Bali Modern berjudul aib
karya Ni Ketut Ayu Puspita Dewi oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bebandem,
Kabupaten Karangasem, Tahun Pelajaran 2011/2012?
2)
Kesulitan-kesulitan apa
sajakah yang dialami oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bebandem, Kabupaten
Karangasem, Tahun Pelajaran 2011/2012 dalam menulis sinopsis Drama Bali Modern
berjudul aib karya Ni Ketut Ayu
Puspita Dewi?
3)
Faktor-faktor apa
sajakah yang menyebabkan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bebandem, Kabupaten
Karangasem, Tahun Pelajaran 2011/2012 mengalami kesulitan dalam menulis
sinopsis Drama Bali Modern berjudul aib
karya Ni Ketut Ayu Puspita Dewi?
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan
uraian diatas, adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini memiliki
dua tujuan yaitu (1) tujuan umum dan (2)
tujuan khusus. Untuk lebih jelasnya, kedua tujuan itu akan diuraikan berikut
ini.
1.3.1
Tujuan
Umum
Secara
umum tujuan penelitian ini adalah :
1)
Turut serta dalam
melestarikan dan mengembangkan Kebudayaan Bali;
2)
Salah satu langkah
penting didalam pembangunan pendidikan di Indonesia khususnya siswa untuk
mengetahui tingkat apresiasi terhadap karya sastra bali modern, khususnya Dram
Bali Modern;
1.3.2 Tujuan
Khusus
Sesuai dengan
yang diteliti, maka yang menjadi tujuan khusus penelitian ini adalah:
1)
Untuk Mengetahui
kemampuan menulis sinopsis Drama Bali Modern berjudul aib karya Ni Ketut Ayu Puspita Dewi oleh siswa kelas XI SMA Negeri
1 Bebandem, Kabupaten Karangasem, Tahun Pelajaran 2011/2012.
2)
Untuk Mengetahui
Kesulitan-kesulitan apa sajakah yang dialami oleh siswa kelas XI SMA Negeri 1
Bebandem, Kabupaten Karangasem, Tahun Pelajaran 2011/2012 dalam menulis
sinopsis Drama Bali Modern berjudul aib
karya Ni Ketut Ayu Puspita Dewi.
3)
Untuk Mengetahui
Faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan siswa kelas XI SMA Negeri 1
Bebandem, Kabupaten Karangasem, Tahun Pelajaran 2011/2012 mengalami kesulitan
dalam menulis sinopsis Drama Bali Modern berjudul aib karya Ni Ketut Ayu Puspita Dewi.
1.3 Ruang Lingkup Penelitian
Berdasarkan
tujuan penelitian yang dikemukakan diatas dan untuk menghindari penyimpangan
dalam penelitian, maka diadakan pembatasan terhadap masalah yang diteliti.
Adapun ruang lingkup penelitian hanya mengkhusus pada aspek-aspek yang harus
diperhatikan dalam menilai sinopsis. Aspek-aspek yang dinilai meliputi (1)
judul naskah drama dan pengarangnya, (2) gambaran umum isi drama, (3) penokohan, (4) plot/ alur, (5)
pemaparan latar, dan (6) gaya bahasa.
1.4 Manfaat
Penelitian
Suatu
penelitian penting dikemukakan dalam setiap usulan atau rancangan penelitian,
baik penelitian deskriptif maupun penelitian eksplansi, studi kasus, survey dan
eksperimen. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian ini memiliki
manfaat yang bersifat teoritis dan praktis.
1.5.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis masalah
data yang diperoleh dapat dijadikan acuan dalam usaha meningkatkan hasil
pembelajaran dalam bahasa bali khususnya dalam sebuah drama berbahasa bali
didalam menulis sinopsis karena teori tentang sinopsis masih sedikit, serta
akan melatih kemampuan siswa dalam menulis sinopsis dengan baik.
1.5.2
Manfaat
Praktis
Manfaat praktis suatu
penelitian diharapkan bermanfaat :
1)
Bagi siswa, hasil penelitian ini bermanfaat
sebagai umpan balik untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi
karya sastra berbahasa bali, khususnya dalam membuat sinopsis drama.
2)
Bagi guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan
sebagai umpan balik dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar
khususnya dalam mengajarkan menulis sinopsis.
3)
Bagi penyusun buku ajar, hasil penelitian
dapat memberikan masukan dalam penyusunan materi ajar yang lebih lengkap,
tepat, dan sistematis, sehingga materi tentang sinopsis dapat dijelaskan lebih
lengkap.
4)
Bagi pengembang kurikulum, dari penelitian ini
bisa memberikan masukan-masukan agar dalam penyusunan kurikulum materi
apresiasi sastra khususnya sinopsis dapat menjadi materi pokok yang diajarkan
karena dengan membuat synopsis para siswa dapat lebih peka dalam mengapresiasi
karya sastra, selain itu dalam kurikulum pendidiksn bahasa daerah bali dalam pengalokasian
waktu yang diberikan sangatlah sedikit.
1.5 Asumsi Penelitian
Asumsi
merupakan pernyataan umum yang kebenarannya sudah tidak perlu diragukan lagi
(Arifin, 1987:57). Sedangkan menurut The Liang Gie, (1980:15) mengatakan bahwa
“asumsi adalah keterangan yang sebenarnya di terima tanpa pembuktian lebih lanjut
untuk menjadi dasar awal atau pegangan dalam suatu perbincangan” Ahli lain
mengatakan asumsi adalah satu hal yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang
harus dirumuskan secara jelas dan berfungsi sebagai hal-hal untuk berpijak bagi
peneliti dalam melaksanakan penelitiannya serta dipakai untuk memperkuat
permasalahannya (Arikunto,1992:59).
Dari
berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa asumsi adalah anggapan dasar
tentang suatu masalah atau fakta yang mengandung kebenaran tanpa memerlukan
pembuktian, dengan kata lain masalah yang diuji atau dibuktikan kebenarannya
adalah masalah yang merupakan perkecualian dari asumsi yang diajukan tersebut.
Adapun
asumsi yang dipakai sebagai landasan berpijak
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)
Pengajaran bahasa bali
ditempat penelitian ini telah berdasarkan kurikulum yang berlaku saat ini,
yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang efektif dilaksanakan
mulai tahun 2007.
2)
Guru yang mengajarkan
bahasa bali pada siswa kelas XI telah mempunyai kewenangan mengajarkan bahasa
bali karena guru yang mengajar bahasa bali di sekolah tempat penelitian ini
berasal dari lulusan S1 bidang ilmu pendidikan bahasa Bali.
3)
Naskah Drama Bali
Modern berjudul aib karya Ni Ketut
Ayu Puspita Dewi telah memiliki nilai sastra yang baik dan layak dibaca oleh
siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bebandem, Kabupaten Karangasem, Tahun Pelajaran
2011/2012.
4)
Perbedaan jenis kelamin
siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bebandem tidak berpengaruh terhadap hasil
penelitian ini.